Makna Ikan Bandeng Dibalik Perayaan Imlek

Makna Ikan Bandeng di Balik Perayaan Imlek



kaweellop - Ikan Bandeng adalah bagian dari tradisi Imlek. Bahkan menjadi bagian dari 12 makanan yang biasa terhidang saat peraan tahun baru China ini.

Andi Santosa, tokoh Tionghoa kawasan Glodok, Jakarta Barat, mengatakan sebelum dihidangkan, ikan bandeng dipilih yang bermutu baik dengan ukuran besar dan mata bening. 

Bandeng memang menjadi simbol mata dari 12 shio dalam setahun penanggaan China. Mata yang bening akan melambangan kebeningan penglihatan untuk berjalan mengarungi hidup.

  Umumnya, bandeng disajikan dengan diolah menjadi pindang. Penyajian pun harus utuh dari kepala sampai ekor. Bahkan sisiknya pun tak dibuang. Dipercaya penyajian cara ini menjadi harapan akan rezeki yang tak terputus sepanjang tahun. "Rezeki kan bukan materi saja tapi juga kesehatan dan hidup yang lebih baik," ujarnya. 
 


Saat disajian di meja, kepala bandeng akan mengarah ke tamu. Menurutnya, hal ini menunjukkan tuan rumah begitu menghormati tamunya hingga memberi tempat tertinggi. 

Sekalipun penuh harapan di tahun baru, bukan berarti tradisi ini tak memperhitungkan aspek realistis. Bandeng yang dikenal banyak duri ini juga dianggap melambangkan hidup yang harus di jalani manusia tidak mudah.

  Duri-duri itu harus disingkirkan sebelum memakannya. Harus hati-hati supaya tak mengganggu bahkan melukai ketika disantap. 

"Ini menjadi perlambang bahwa dalam hidup tetap akan ada penghalang yang harus hati-hati dilalui," jelasnya. 

"Harus teliti untuk menyingkirkannya agar hidup berjalan baik," sambung Andi.



Keberadaan bandeng saat Imlek menjadi simbol dan harapan untuk terus maju dalam kehidupan. 

Filosofi ini sama dengan ikan, matanya yang bening, yang berenang maju tanpa menabrak apapun meski dalam cahaya redup.



Previous Post Next Post