Anggota Presedium Penyelamat Partai Berkarya Foto CNN.

KAWEELLOP.com - Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Berkarya yang digelar di Hotel Grand Kemang Jakarta melengserkan Tommy Soeharto dan di gantikan Muchdi Purwoprandjono sebagai Ketua Umum Partai Berkarya periode 2020-2025.

Dengan terpilihnya Muchdi, Partai Berkarya terpecah menjadi dua kubu. Kubu versi Muchdi dan versi Tommy.

Sempat diwarnai aksi protes bahkan dalam sebuah tayangan video yang beredar di media sosial sang Ketua Umum, Tommy Soeharto dan Sekertaris Jenderal Budi sampai turun membubarkan karena munaslub tersebut dianggap Inkonstitusional.





Namun, Munaslub tetap di gelar hingga Muchdi Purwoprandjono terpilih sebagai Ketua Umum menggantikan Tommy.

Bahkan selain dari keputusan pergantian Ketua Umum, Munaslub yang di gelar oleh Presedium penyelamat Berkarya tersebut juga mengganti nama Partai yang semula Partai Berkarya berubah menjadi Partai Beringin Karya (Berkarya).

Berikut kiprah Muchdi Purwoprandjono yang dilansir dari laman CNN Indonesia.

Karier Militer

Sebelum memutuskan untuk berkecimpung di dunia politik, Muchdi sendiri lebih dikenal masyarakat sebagai tokoh militer. Lulusan Akademi Militer (Akmil) 1970 itu dikenal sebagai salah satu perwira yang moncer pada masa era Orde Baru. 

Muchdi pernah menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Tanjungpura tahun 1985. Kemudian, ia ditunjuk menjadi K akuomandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) menggantikan posisi Prabowo Subianto yang naik pangkat sebagai Pangkostrad pada Maret 1998.

Setelah Soeharto dan Orde Baru jatuh, Muchdi masih mendapatkan posisi strategis pemerintahan. Ia menempati posisi Deputi V Badan Intelijen Negara (Bakin) Bidang Penggalangan pada 2001-2005.


Masuk dunia Politik

Purna tugas dari dunia militer, Muchdi memutuskan untuk masuk ke gelanggang politik tanah air. Labuhan pertamanya jatuh pada Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Bersama sahabatnya, Prabowo Subianto dan beberapa tokoh lainnya, ia mendirikan partai tersebut pada 6 Februari 2008.

Muchdi langsung mendapatkan jabatan bergengsi sebagai  Wakil Ketua Umum Partai Gerindra usai didirikan. Diketahui,  Muchdi dan Prabowo sendiri memiliki hubungan persahabatan yang sangat dekat sejak lama. 

Meski demikian, keduanya sempat pecah kongsi pada media Februari 2011. Muchdi kala itu memutuskan keluar dari Gerindra dan kemudian bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). 

Pilpres 2014 lalu juga menjadi pembuktian bahwa  Muchdi tak lagi mendukung Prabowo. Kala itu, Ia memilih untuk mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) ketimbang mendukung Prabowo-Hatta Rajasa.


Bahkan, sikap itu bersebrangan dengan sikap politisi resmi PPP yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Muchdi sendiri diketahui bergabung dengan Relawan Matahari Indonesia yang mendukung Jokowi-JK.

Lama tak terdengar kiprahnya, sosok Muchdi kembali muncul pada tahun 2018 lalu. Kali ini, ia sudah berubah labuhan partai dengan mendirikan Partai Berkarya bersama putera Presien ke-2 RI, Soeharto, Hutomo Mandala Putera atau Tommy Soeharto pada tahun 2018 silam. 

Muchdi pun langsung didapuk menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya.

Pada Pilpres 2019 lalu, Muchdi secara terang-terangan melakukan manuver dengan kembali mendukung Jokowi yang kali ini berpasangan dengan Ma'ruf Amin.  Padahal, Partai Berkarya sendiri sudah mendeklarasikan dukungannya kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Ketua Umum Partai Berkarya di lain kubu Tommy Soeharto sendiri sebelumnya menyatakan sudah memecat para kadernya yang menghendaki munaslub. Mereka tergabung dalam Presidium Penyelamat Partai Berkarya.

"Memutuskan bulat melakukan pemberhentian sebagai pengurus DPP Partai Berkarya serta pemberhentian tetap terhadap nama-nama yang melakukan apa yang melakukan namanya Presidium Penyelamat Partai Berkarya," kata Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso dilansir CNN Indonesia.

Namun Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso enggan untuk menyebutkan nama-nama dan jumlah kader Partai Berkarya yang dipecat tersebut.

Ia hanya menegaskan orang-orang tersebut sudah tak memiliki hak lagi untuk mengatasnamakan partai dan menggunakan simbol-simbol Partai Berkarya dalam aktivitasnya.

Salah satu kader yang tergabung dalam presidium adalah Ketua DPP Partai Berkarya, Badarudin Andi Picunang. Ia sebelumnya mengatakan kegagalan di 2019 merupakan hasil dari ketidakberesan manajemen internal partai. Oleh karena itu, Badar menyerukan evaluasi dan pergantian pimpinan dalam Partai Berkarya.

Badar juga menyatakan pihaknya akan menggelar Munaslub pada 11 Juli 2020. Bahkan, ia menyebut sosok Muchdi Pr dan Tommy akan bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Berkarya untuk periode mendatang.




Lolos dari Kasus Munir

Disamping itu, nama Muchdi Pr kerap kali dikaitkan dalam kasus pembunuhan aktivis kemanusiaan dan HAM Munir Said Thalib.

Munir dinyatakan meninggal dunia dalam penerbangan tujuan Amsterdam dengan pesawat Garuda Indonesia Tanggal 6 September 2004 silam.

Pada 19 Juni 2008 atau kurang lebih empat tahun setelah peristiwa itu terjadi, Muchdi resmi ditangkap polisi dan ditetapkan sebagai tersangka. Ia dikenakan Pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan terencana.

Tim Pencari Fakta (TPF) Munir menyatakan Muchdi terlibat persengkokolan pembunuhan Munir dengan Pollycarpus Budihari Prijanto. TPF mencatat setidaknya ada 27 kali panggilan telepon genggam Pollycarpus ke telepon genggam Muchdi.

Bahkan TPF menyatakan ada enam kali komunikasi dari telepon Polly ke nomor kantor BIN tepatnya ruang Muchdi di mana nomor kantor tersebut diketahui merupakan nomor rahasia BIN. Selain itu, komunikasi juga dilakukan empat kali dari nomor telepon rumah Pollycarpus ke nomor telepon yang digunakan Muchdi.

Meski demikian, nasib mujur masih berada di pihak Muchdi atas kasus Munir. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyatakan Muchdi PR bebas murni dari segala dakwaan pada 31 Desember 2008. Sementara Pollycarpus harus menerima kenyataan menerima vonis 14 tahun penjara atas kasus tersebut. (Sumber CNN Indonesia).