... Google Alert - site:kaweellop.com

Ad Code

  HEADLINE 

Armin Sunardi: Nuansa Baku Perpolitikan Daerah di Pentas Nasional


 Opini  
Armin Sunardi



Menjelang pelantikan Presiden terpilih Joko Widodo – KH. Ma'aruf Amin yang hanya tinggal menghitung hari dan tentunya akan dilanjutkan dengan pengumuman menteri kabinet kerja Jokowi Jiilid II.  Secercah harapan masyarakat  agar tokoh-tokoh potensial dari Nusa Tenggara Barat bisa terpilih mewakili provinsi ini.

Sepeninggalnya  H. Muhammad Feisal Tamin, yang menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Birokrasi di awal reformasi pada era Presiden Megawati Soekarno Putri hingga kini belum ada lagi tokoh dari NTB yang mampu menduduki posisi menteri.
Tokoh-tokoh dari provinsi lain di Indonesia hilir mudik mengirim wakilnya di kabinet bahkan Papua dan NTT juga tak ketinggalan dan kita hanya sebagai penonton! Memiliki tokoh yang menduduki jabatan menteri bukan saja soal adu gengsi antar provinsi meskipun sebenarnya eksistensi jabatan menteri merupakan jabatan paling bergengsi di republik ini setelah jabatan Presiden dan Wakil Presiden.

Pertanyaannya, untuk apa seorang menteri jika hanya untuk beradu gengsi ?? Predikat yang melekat pada Provinsi  Nusa Tenggara Barat sebagai daerah tertinggal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di urutan terbawah adalah momok dalam 60 tahun peradaban berdirinya provinsi ini.

Rilis Badan Pusat Statistik NTB tahun 2018, laju pertumbuhan IPM NTB mewakili tujuh tercepat dari provinsi lain di Indonesia atau dengan kata lain IPM NTB saat ini sudah berada di posisi 30 dari 34 provinsi secara nasional. Naik satu tingkat lebih tinggi dari posisi sebelumnya. Tren perkembangan yang terus bergerak ke arah yang positif namun hal tersebut tidak dapat mengubah tren serta citra masyarakat Nusa Tenggara Barat dalam arti luas ketika tokoh-tokoh potensial dari NTB tidak mampu berbicara banyak di panggung nasional.

Beberapa tokoh NTB yang menduduki jabatan tinggi negara baik di eksekutif maupun legislatif selama ini hampir tak pernah terdengar, cenderung datar dan tak terlihat keberadaannya di media-media nasional dalam menyampaikan gagasan serta gebrakan inovatifnya. Kemana mereka ? pencitraan mungkin perlu dilakukan untuk hal yang positif. Memanfaatkan media-media nasional, bukan melulu dengan kontroversi.

Sosok Intelektual nan juga penuh kontroversi Fahri Hamzah dan TGB. M. Zainul Majdi Ulama yang dikenal sukses memimpin NTB selama 10 tahun terakhir dengan segudang prestasi bahkan sempat digadang-gadang sebagai cawapres pada pilpres 2019. Dengung kedua tokoh cukup memberikan efek dan warna baru yang bisa mengangkat nama dan martabat serta merubah paradigma masyarakat luas terhadap citra NTB sebagai daerah tertinggal.

Sebagai masyarakat Nusa Tenggara Barat tentu menjadi sebuah cerita dan kebanggaan tersendiri ketika para elite provinsi ini mampu keluar dari nuansa baku perpolitikkan daerah. Kekalahan NTB diatas kertas akan sirna seketika dan terlihat diatas awan tat kala tokoh-tokoh terbaik Bumi Gora NTB berani bersuara lantang di kancah nasional.


Kaweellop merupakan media terbuka. Seluruh material berita dan opini adalah tanggung jawab penulis.


Reactions

Post a Comment

0 Comments